Selasa, 12 Februari 2013
I AM A TOURIST!
Singapore, 12 February 2013.
My mom just went back home this early morning and i missed her already. I thank you mother to visit me here, to bring me my comfort foods, to listen to me, understand me, and to rub my back before i went to sleep. You really brought HOME to me...
Nothing else can be better than being a TOURIST! And i was a tourist for this past 3 days, here, in Singapore! Hahahaha... Visiting places that i've visited many times again and again but still fun. Nothing happening during this Chinese New Year season. All stores are closed and most of foreigners went back to their hometown. I spent this past 3 days with my mother, walking around the city, took photos, tried some local foods (i thank you mom to gain my weight! hahaha...).
Actually i wasn't feeling well, but i don't want to spoil my mom's vacation here. So i tried my best to make her enjoy her visit, though i'm dying right now in my bed hahahaha... No no no... mom...all the best things for you! Always!
I saw the Singapore skyline from the top of Singapore Flyer and that was awesome. This country is very small but very well planned actually. They never stop build and dress up their country. I love Singapore for some reasons: its vibrancy, its multicultural things, and its system. And i really enjoyed my days as a tourist with local's prices! Hahahaha....
Selasa, 05 Februari 2013
Minggu, 27 Januari 2013
A LIFETIME STUDENT
Sekolah.
Berapa banyak dari kita yang benar-benar menyukai sekolah? Atau mungkin pertanyaannya saya ganti menjadi seperti ini: berapa banyak dari kita yang masih ingat sedikit saja pelajaran Pendidikan Pancasila atau Trigonometri? Bagus kalau masih ingat. Dan berapa banyak dari kita yang justru masih menyimpan jelas memori persahabatan saat kita masih di bangku sekolah menengah?
Saya tidak anti sekolah. Saya tetap menyukai sekolah.
Dengan alasan yang sangat subjektif: belajar hal baru lewat buku (yang memang sudah seharusnya begitu), ketemu banyak teman, lalu menunggu saat pulang. Karena aktivitas saya justru lebih banyak dan menyenangkan ketika pulang sekolah. Hahaha... Seiring saya dewasa, di umur saya yang sekarang sudah 30 tahun, dan saya seorang desainer grafis sekarang, kemudian saya berpikir...dulu saya belajar apa saja ya? Kalau saya sudah tahu cita-cita saya jadi desainer grafis pada saat itu, lalu kenapa saya harus dipaksakan menghafalkan reaksi kimia, rumus fisika, dan tidak boleh tidak - harus dapat minimal angka 7 di matematika kalau saya mau lulus sekolah atau hanya sekadar kalau tidak mau dimarahi orang tua. Kenapa saya harus - tidak boleh tidak - harus menghafal peta buta di mata pelajaran geografi, yang lalu memaksa saya untuk mencontek karena saya sama sekali buta akan peta buta pada saat itu, sementara saya lebih tertarik pelajaran bernyanyi atau menggambar, atau menulis narasi dalam Bahasa Indonesia.
Kalau saja orangtua dan guru-guru saya sadar lebih cepat kalau saya bisa dengan sangat baik membuat struktur warna di atas medium kertas, atau saya bisa membuat komposisi warna dengan sangat baik dengan daun kering, atau bahkan saya dapat menulis dengan Bahasa Indonesia dengan struktur bahasa dengan sangat baik, lalu tidak memaksakan saya untuk dapat nilai A di pelajaran Biologi, mungkin saya sudah jadi art director sekaligus copywrtiter yang lebih berkualitas hari ini. Hehehe... Hingga akhirnya saya todak pernah berpikir 2 kali untuk memilih Bahasa/Linguistik sebagai spesifikasi saya ketika SMA dan Desain Komunikasi Visual sebagai pilihan fakultas ketika saya masuk universitas. Saya sama sekali tidak butuh options pada saat itu.
Lalu hari ini, beberapa tahun setelah saya menyelesaikan pendidikan formal dan bekerja sebagai Graphic Designer, apa semua ilmu tadi terpakai? Ya. Semua? Tidak. Tetapi buat saya, ilmu itu seperti alarm. Pasti ada saat di mana otak kita me-recall apa yang kita pelajari di bangku sekolah dengan medium buku teks atau praktek. Pasti. Itu saja? Juga tidak.
Wise men say, pengalaman itu adalah guru yang paling berharga. Cliche but true.
Saya termasuk murid dengan prestasi baik sewaktu sekolah. Tidak hebat, tapi juga tidak mengecewakan. Sekali saya mendapat beasiswa dari salah satu Japan Foundation, lalu berusaha mengikuti tes untuk scholarship ke Jepang walau gagal di step awal karena Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik pada saat itu. Hahaha... Tapi hari ini saya bersyukur, kalau saya berhasil dapat scholarship, yang pada saat itu saya juga tidak yakin apa tujuan saya, apa hari ini saya tetap jadi desainer - yang mana adalah cita-cita yang sudah saya rencanakan sejak lama? Belum tentu.
Hari ini saya berada di sini. Singapura. Negara di mana saya tidak pernah membayangkan saya bisa bekerja dan berkarya di sini. Bahkan 2 tahun lalu pun, dalam bayangan saja tidak. apalagi rencana. Lalu saya berpikir...apa sih yang membawa saya bisa kesini? Jawabnya adalah...akumulasi. Yang membawa saya bisa ke sini adalah akumulasi dari serangkaian pengalaman, ilmu, dan tentu saja orang-orang di sekitar saya. Saya tidak "berangkat" sendiri. Saya bisa kesini karena guru-guru saya di masa lalu, teman, sahabat, orang tua, keluarga, dll. Bukan hanya keberhasilan-keberhasilan kecil, namun juga kegagagalan dan penolakan di masa lampau yang akhirnya saya rangkum dalam sebuah CV dan portfolio dalam format PDF sederhana itu. Kemudian saya berhasil terbang ke Singapura.
Mission complete?
Lalu bagaimana dengan sekolah? Katanya mau lanjut ke S2 (master degree)?
Pendidikan formal saya berhenti di jenjang Strata 1 sebagai Sarjana Seni. 4 tahun lamanya untuk 'menebus' sertifikat kelulusan itu. Lalu 2 kali saya mendaftar S2 di Universitas Indonesia, namun berhenti di tahap pendaftaran saja. Uang pendaftaran dari mama saya belikan pulsa saat itu. Hahahaha... Lalu usaha ke-2 saya gagal karena papa yang tiba-tiba harus berhenti bekerja. Harapan saya...pupus. Hari ini saya sama sekali tidak menyesal saya gagal melanjutkan pendidikan ke S2.
Kenapa? Ini alasannya....
1. Sebenarnya sederhana saja. Karena saya yakin bahwa apa yang saya cetak di buku rapot dan ijazah tidak menjamin bagaimana masa depan saya. buktinya, saya diminta melampirkan ijazah universitas saya ketika mengajukan visa kerja di Singapura. Untuk apa? Apa mereka mempertimbangkan nilai-nilai saya? Tidak. Melainkan (mungkin) hanya untuk urusan administrasi saja. Saya bisa sampai di sini karena kerja keras dan keberuntungan, which is saya juga percaya bahwa keberuntungan-pun berhak memilih ke mana dia berlabuh. Jalan saya terlalu mulus. Tapi tidak dengan proses yang ternyata harus saya hadapi di sini. Rintangan dan tantangan ternyata banyak sekali. Bekerja dan belajar di Singapura...sama sekali tidak mudah.
2. Saya sadar, betapa membosankannya saya, designer, jauh-jauh datang ke sini...lalu cuma belajar design? "Boros" sekali ya? Lalu saya mulai mencoba hal-hal baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Saya mulai membuka 'pintu' saya sebagai designer lebar-lebar dan menjadi manusia biasa di dunia nyata dan dunia maya.


Saya mulai beli buku yang BUKAN buku design.
Saya menonton musikal BUKAN berbahasa Indonesia (waktu itu musikalnya pakai bahasa mandarin).
Saya makan makanan yang BUKAN comfort food saya.
Saya pacaran dengan orang Meksiko yang berdomisili di Chicago.
Saya ngobrol dengan uncle-uncle penjual kopi di hawker yang TIDAK BISA bahasa inggris.
Saya mulai TIDAK membaca buku Stevan Sagmeister. Saya membaca buku fashion.
Saya masuk ke Buddhist Temple dan mengaku sebagai Buddhist untuk tahu bagaimana mereka menyembah.
Saya beli dan main gitar (lagi) setelah 3 tahun berhenti main gitar dan nyanyi.
Saya belajar masak Guacamole dan Rouladen (dan gagal), BUKAN lagi nyaman masak Bakwan Jagung yang saya sudah hapal betul bagaimana cara masaknya.
Saya mulai belajar bahasa Tagalog.
Saya mulai tertawa ketika teman saya ngobrol dengan bahasa hokkien.
Saya mulai makan masakan India yang saya sama sekali tidak pernah suka.
Saya mencoba online dating.
Saya bertemu seorang laki-laki Brazilian, dan akhirnya belajar bahasa Portugis.
Saya beli buku tentang Carrot Cake, dan BUKAN tentang Tipografi.
Saya bertemu dan menolong a total stranger, yang ternyata seorang creative director.
Saya bersahabat dengan auntie jompo yang bekerja sebagai waitress di hawker center.
Saya nonton Air Show yang samasekali saya nggak ngerti.
Saya bersahabat dengan laki-laki di belahan dunia lain di Eropa sana.
Saya beli tiket pesawat seharga $2000 secara impulsive dan akan berangkat ke Jerman 40 hari dari sekarang.
Dan saya...cukup bahagia. Dan merasa beruntung.
3. Ilmu adalah akumulasi dari serangkaian kejadian yang kita alami, dan semua itu datangnya BUKAN tanpa tujuan. Saya mulai belajar bahasa Jerman. Ya, dulu saya pernah dapat nilai A di mata pelajaran Bahasa Jerman saya, dan hari ini saya heran kenapa saya bisa dapat nilai A? Hahaha... Dan sekarang saya 'harus' belajar bahasa Jerman (lagi). Tidak pernah ada untung-rugi dalam belajar. Ilmu ada di sekitar kita. Dan adalah bukan keharusan untuk duduk manis di bangku sekolah.
Kita ini generasi yang beruntung. Kita punya buku, kita punya internet, kita punya teman, kita punya sahabat, kita punya strangers di sekitar kita di mana kita bisa belajar. Kalau saya tidak sanggup bayar guru di sebuah institut, saya masih punya jaringan internet yang cukup baik untuk saya melihat tutorial bahasa mandarin, tutorial bagaimana belajar chord ukulele atau gitar, belajar bagaimana sih pronounce bahasa jerman atau bahasa inggris yang benar, atau sekadar tutorial gimana sih masak soup yang enak?
Sekolah.
Berapa banyak dari kita yang benar-benar menyukai sekolah?
Atau...kita mulai sadar bahwa alam raya ini...ya sekolah yang sebenar-benarnya?
Singapura,
Sebelum waktu makan siang tiba. 28 Januari 2013.
Berapa banyak dari kita yang benar-benar menyukai sekolah? Atau mungkin pertanyaannya saya ganti menjadi seperti ini: berapa banyak dari kita yang masih ingat sedikit saja pelajaran Pendidikan Pancasila atau Trigonometri? Bagus kalau masih ingat. Dan berapa banyak dari kita yang justru masih menyimpan jelas memori persahabatan saat kita masih di bangku sekolah menengah?
Saya tidak anti sekolah. Saya tetap menyukai sekolah.
Dengan alasan yang sangat subjektif: belajar hal baru lewat buku (yang memang sudah seharusnya begitu), ketemu banyak teman, lalu menunggu saat pulang. Karena aktivitas saya justru lebih banyak dan menyenangkan ketika pulang sekolah. Hahaha... Seiring saya dewasa, di umur saya yang sekarang sudah 30 tahun, dan saya seorang desainer grafis sekarang, kemudian saya berpikir...dulu saya belajar apa saja ya? Kalau saya sudah tahu cita-cita saya jadi desainer grafis pada saat itu, lalu kenapa saya harus dipaksakan menghafalkan reaksi kimia, rumus fisika, dan tidak boleh tidak - harus dapat minimal angka 7 di matematika kalau saya mau lulus sekolah atau hanya sekadar kalau tidak mau dimarahi orang tua. Kenapa saya harus - tidak boleh tidak - harus menghafal peta buta di mata pelajaran geografi, yang lalu memaksa saya untuk mencontek karena saya sama sekali buta akan peta buta pada saat itu, sementara saya lebih tertarik pelajaran bernyanyi atau menggambar, atau menulis narasi dalam Bahasa Indonesia.
Kalau saja orangtua dan guru-guru saya sadar lebih cepat kalau saya bisa dengan sangat baik membuat struktur warna di atas medium kertas, atau saya bisa membuat komposisi warna dengan sangat baik dengan daun kering, atau bahkan saya dapat menulis dengan Bahasa Indonesia dengan struktur bahasa dengan sangat baik, lalu tidak memaksakan saya untuk dapat nilai A di pelajaran Biologi, mungkin saya sudah jadi art director sekaligus copywrtiter yang lebih berkualitas hari ini. Hehehe... Hingga akhirnya saya todak pernah berpikir 2 kali untuk memilih Bahasa/Linguistik sebagai spesifikasi saya ketika SMA dan Desain Komunikasi Visual sebagai pilihan fakultas ketika saya masuk universitas. Saya sama sekali tidak butuh options pada saat itu.
Lalu hari ini, beberapa tahun setelah saya menyelesaikan pendidikan formal dan bekerja sebagai Graphic Designer, apa semua ilmu tadi terpakai? Ya. Semua? Tidak. Tetapi buat saya, ilmu itu seperti alarm. Pasti ada saat di mana otak kita me-recall apa yang kita pelajari di bangku sekolah dengan medium buku teks atau praktek. Pasti. Itu saja? Juga tidak.
Wise men say, pengalaman itu adalah guru yang paling berharga. Cliche but true.
Saya termasuk murid dengan prestasi baik sewaktu sekolah. Tidak hebat, tapi juga tidak mengecewakan. Sekali saya mendapat beasiswa dari salah satu Japan Foundation, lalu berusaha mengikuti tes untuk scholarship ke Jepang walau gagal di step awal karena Bahasa Inggris saya tidak terlalu baik pada saat itu. Hahaha... Tapi hari ini saya bersyukur, kalau saya berhasil dapat scholarship, yang pada saat itu saya juga tidak yakin apa tujuan saya, apa hari ini saya tetap jadi desainer - yang mana adalah cita-cita yang sudah saya rencanakan sejak lama? Belum tentu.
Hari ini saya berada di sini. Singapura. Negara di mana saya tidak pernah membayangkan saya bisa bekerja dan berkarya di sini. Bahkan 2 tahun lalu pun, dalam bayangan saja tidak. apalagi rencana. Lalu saya berpikir...apa sih yang membawa saya bisa kesini? Jawabnya adalah...akumulasi. Yang membawa saya bisa ke sini adalah akumulasi dari serangkaian pengalaman, ilmu, dan tentu saja orang-orang di sekitar saya. Saya tidak "berangkat" sendiri. Saya bisa kesini karena guru-guru saya di masa lalu, teman, sahabat, orang tua, keluarga, dll. Bukan hanya keberhasilan-keberhasilan kecil, namun juga kegagagalan dan penolakan di masa lampau yang akhirnya saya rangkum dalam sebuah CV dan portfolio dalam format PDF sederhana itu. Kemudian saya berhasil terbang ke Singapura.
Mission complete?
Lalu bagaimana dengan sekolah? Katanya mau lanjut ke S2 (master degree)?
Pendidikan formal saya berhenti di jenjang Strata 1 sebagai Sarjana Seni. 4 tahun lamanya untuk 'menebus' sertifikat kelulusan itu. Lalu 2 kali saya mendaftar S2 di Universitas Indonesia, namun berhenti di tahap pendaftaran saja. Uang pendaftaran dari mama saya belikan pulsa saat itu. Hahahaha... Lalu usaha ke-2 saya gagal karena papa yang tiba-tiba harus berhenti bekerja. Harapan saya...pupus. Hari ini saya sama sekali tidak menyesal saya gagal melanjutkan pendidikan ke S2.
Kenapa? Ini alasannya....
1. Sebenarnya sederhana saja. Karena saya yakin bahwa apa yang saya cetak di buku rapot dan ijazah tidak menjamin bagaimana masa depan saya. buktinya, saya diminta melampirkan ijazah universitas saya ketika mengajukan visa kerja di Singapura. Untuk apa? Apa mereka mempertimbangkan nilai-nilai saya? Tidak. Melainkan (mungkin) hanya untuk urusan administrasi saja. Saya bisa sampai di sini karena kerja keras dan keberuntungan, which is saya juga percaya bahwa keberuntungan-pun berhak memilih ke mana dia berlabuh. Jalan saya terlalu mulus. Tapi tidak dengan proses yang ternyata harus saya hadapi di sini. Rintangan dan tantangan ternyata banyak sekali. Bekerja dan belajar di Singapura...sama sekali tidak mudah.
2. Saya sadar, betapa membosankannya saya, designer, jauh-jauh datang ke sini...lalu cuma belajar design? "Boros" sekali ya? Lalu saya mulai mencoba hal-hal baru yang belum pernah saya coba sebelumnya. Saya mulai membuka 'pintu' saya sebagai designer lebar-lebar dan menjadi manusia biasa di dunia nyata dan dunia maya.


Saya mulai beli buku yang BUKAN buku design.
Saya menonton musikal BUKAN berbahasa Indonesia (waktu itu musikalnya pakai bahasa mandarin).
Saya makan makanan yang BUKAN comfort food saya.
Saya pacaran dengan orang Meksiko yang berdomisili di Chicago.
Saya ngobrol dengan uncle-uncle penjual kopi di hawker yang TIDAK BISA bahasa inggris.
Saya mulai TIDAK membaca buku Stevan Sagmeister. Saya membaca buku fashion.
Saya masuk ke Buddhist Temple dan mengaku sebagai Buddhist untuk tahu bagaimana mereka menyembah.
Saya beli dan main gitar (lagi) setelah 3 tahun berhenti main gitar dan nyanyi.
Saya belajar masak Guacamole dan Rouladen (dan gagal), BUKAN lagi nyaman masak Bakwan Jagung yang saya sudah hapal betul bagaimana cara masaknya.
Saya mulai belajar bahasa Tagalog.
Saya mulai tertawa ketika teman saya ngobrol dengan bahasa hokkien.
Saya mulai makan masakan India yang saya sama sekali tidak pernah suka.
Saya mencoba online dating.
Saya bertemu seorang laki-laki Brazilian, dan akhirnya belajar bahasa Portugis.
Saya beli buku tentang Carrot Cake, dan BUKAN tentang Tipografi.
Saya bertemu dan menolong a total stranger, yang ternyata seorang creative director.
Saya bersahabat dengan auntie jompo yang bekerja sebagai waitress di hawker center.
Saya nonton Air Show yang samasekali saya nggak ngerti.
Saya bersahabat dengan laki-laki di belahan dunia lain di Eropa sana.
Saya beli tiket pesawat seharga $2000 secara impulsive dan akan berangkat ke Jerman 40 hari dari sekarang.
Dan saya...cukup bahagia. Dan merasa beruntung.
3. Ilmu adalah akumulasi dari serangkaian kejadian yang kita alami, dan semua itu datangnya BUKAN tanpa tujuan. Saya mulai belajar bahasa Jerman. Ya, dulu saya pernah dapat nilai A di mata pelajaran Bahasa Jerman saya, dan hari ini saya heran kenapa saya bisa dapat nilai A? Hahaha... Dan sekarang saya 'harus' belajar bahasa Jerman (lagi). Tidak pernah ada untung-rugi dalam belajar. Ilmu ada di sekitar kita. Dan adalah bukan keharusan untuk duduk manis di bangku sekolah.
Kita ini generasi yang beruntung. Kita punya buku, kita punya internet, kita punya teman, kita punya sahabat, kita punya strangers di sekitar kita di mana kita bisa belajar. Kalau saya tidak sanggup bayar guru di sebuah institut, saya masih punya jaringan internet yang cukup baik untuk saya melihat tutorial bahasa mandarin, tutorial bagaimana belajar chord ukulele atau gitar, belajar bagaimana sih pronounce bahasa jerman atau bahasa inggris yang benar, atau sekadar tutorial gimana sih masak soup yang enak?
Sekolah.
Berapa banyak dari kita yang benar-benar menyukai sekolah?
Atau...kita mulai sadar bahwa alam raya ini...ya sekolah yang sebenar-benarnya?
Singapura,
Sebelum waktu makan siang tiba. 28 Januari 2013.
Minggu, 20 Januari 2013
WHAT MONEY CAN'T BUY
Singapura, Minggu sore.
Belakangan ini rasanya agak sulit mengungkapkan atau sekadar menceritakan apa yang terjadi dan apa yang dirasa dengan bahasa tulisan. Tahun sudah berganti, bahkan Januari pun seminggu lagi akan berakhir. Saya masih ingat bagaimana perayaan Natal Desember lalu. Sedikit berbeda, karena ada bahagia, tawa, tapi juga ada kekhawatiran yang saya rasakan. Kekhawatiran yang selalu jadi pertanyaan...apa kamu baik-baik saja di sana?
Di minggu pertama di Bulan Januari, saya menerima surat notifikasi dari Singapore Post, menyatakan bahwa ada sebuah paket yang harus saya ambil di kantor pos di Macpherson Road. Sekotak besar dari teman di belahan dunia Eropa sana yang dengan tulus menyiapkan dan membungkus semua isi di dalamnya dan mengirimkannya ke Singapura, walau (mungkin) di hari dia mengirimkannya...di sana salju sedang tebal dan dingin.
Sekotak besar berisi coklat Milka, permen, roti, sarung tangan ukuran liliput, dan buku catatan yang dia buat sendiri dengan tangannya. Sebuah buku yang saya tahu betul tidak mahal, namun dia membuatnya begitu istimewa dan sangat personal. Sebuah buku yang harus saya tulis dan isi dengan cerita-cerita di masa depan... Dan sebuah buku yang pada akhirnya membuat saya berpikir kalau dia...betul-betul nyata. Di sana, 11.000 kilometer jauhnya. Dan saya tidak akan pernah sanggup menahan airmata karena bahagia akan setiap benda yang ada di kotak ini. Saya terlalu bahagia.
Seorang teman tidak perlu bertanya untuk tahu apa yang temannya suka. Dan dia tahu betul saya tidak pernah butuh kemewahan. Sekotak besar hadiah yang datangnya dari hati, yang pada awalnya saya pikir isinya Play Station (hahahaha...just kidding!)... adalah lebih dari cukup. Dan saya suka sekali. Semoga ini adalah harapan yang tidak terlalu berlebihan. Semoga cerita tetap berjalan dan saya dan dia bisa menulis semua yang terjadi di buku ini... Sampai di hari di mana kita akan bertemu, berpisah, dan mungkin akan bertemu lagi di masa depan karena sebuah ...TAKDIR...
Dear kamu,
Terima kasih ya... :)
-------------------------------------------------------------------------
Singapore_ Sunday afternoon.
Lately, it seems rather difficult to express or simply tell what happened and what is perceived by the written language. Years have changed, even in January was another week will end. I still remember how the Christmas celebration in December. A little bit different, because there is happiness, laughter, but there are also concerns that I feel. Concern has always been the question ... Are you okay in there?
In the first week in January, I received a notification letter from the Singapore Post, stated that there was a package I need to take at the post office at Macpherson Road. Large box from a friend in the European parts of the world there are genuinely prepared and wrap all the contents in it and send it to Singapore, though (maybe) on the day he sent it ... there was heavy snow and cold.
Large box containing Milka chocolate, candy, bread, dwarf size gloves, and a notebook that he made himself with his hands. A book that I knew that was not expensive, but he makes it so special and so personal. A book that i should write and fill with the stories in the future ... And a book that ultimately makes me think that he's ... really real. There, 11,000 kilometers away. And I will never be able to hold back tears of joy will any objects in this box. I'm too happy.
A friend does not need to ask to know what her likes. And he knew I would never need luxury. Large box of gifts that come from the heart, which at first I thought it Play Station (hahahaha. .. just kidding!) ... is more than enough. And I love it. Hopefully this is not too much hope. But i wish the story is still running and me and you could write all that happened in this book ... Until the day when we will meet, separate, and will probably meet again in the future as a...DESTINY...
Dear you,
I thank you so... :)
Rabu, 16 Januari 2013
Sabtu, 12 Januari 2013
HOLY GREEN GUACAMOLE
Mexican foods! I love!
Today i try one of Mexican avocado salad called Guacamole. Not sure about hod does it taste like, but let's just try :)
Here you go the ingredients:
3 avocados - peeled, pitted, and mashed
1 lime, juiced
1 teaspoon salt
1/2 cup diced onion
3 tablespoons chopped cilantro
2 tomatoes
Directions:
In a medium bowl, mash together the avocados, lime juice, and salt. Mix in onion, cilantro, and tomatoes. Stir cayenne pepper (optional). Refrigerate 1 hour for best flavor, or serve immidiately.
Senin, 31 Desember 2012
Minggu, 30 Desember 2012
HAPPINESS CAN BE THIS SIMPLE
Kalau ada yang bilang BAHAGIA ITU SEDERHANA, tentu saja saya setuju. Setiap orang punya definisi, interpretasi, dan hal-hal sederhana tentang apa itu bahagia. Bahagia yang saya maksud di sini hanyalah sesederhana perasaan nyaman, sangat nyaman, seakan tak perlu lagi ada apapun yang namanya kemewahan. Sometimes we don't need to spend thousands dollar to get things that can make us feel special!
Ada perasaan yang berbeda setiap kali saya menginjakkan kaki di airport. Apapun namanya, sudah pasti hal-hal yang mengaduk-aduk perasaan. Airport adalah layaknya sebuah drama. Ada excitement, ada haru, ada pertemuan, ada perpisahan. Sementara hujan adalah reaksi alam yang selalu saja tidak pernah gagal membangkitkan good mood dan inspirasi. Suara gemericik air dan aroma tanah&rumput basah... Sama sekali bukan hal-hal yang bikin ngantuk atau malas, justru adalah moment di mana saya lebih kreatif dan inajinatif! :)
Kopi dan buku. Pasangan yang terlalu ideal. Aroma kopi hangat di toko buku...nggak ada lagi yang lebih sempurna. Ada perasaan nyaman yang selalu muncul sewaktu saya mencium aroma kertas bercampur kopi di ruangan toko buku kecil berinterior kayu. Hmmm.... Seringkali saya sengaja pergi ke downtown untuk sekadar melihat-lihat release terbaru buku di sebuah bookstore, dan ketika naju sedikit saja ke dalam...ada sebuah cafe kecil yang simple banget, menyenangkan, dan aroma kopi hangat yang lagi di-brew...Smells gooood!
Musim hujan, coklat panas, dan sebuah sofa besar di ruang televisi, dengan lounge wear panjang dan berkaus kaki tebal. Membiarkan tangan memencet remote control menikmati National Geographic atau travel channel... Hal-hal seperti ini cuma bisa saya dapatkan di akhir-akhir tahun ketika musim hujan datang...Selebihnya...ohhh Singapore is sooo humid! :p
Mr. Davis... Have i told you that i adore you so much?
Blue in Green, Smoke Gets in Your Eyes, Autumn Leaves, Kind of Blue....
But the 1st one really one of my most favorite! Your songs really blow my mind... LOVE!
And the white bed sheet? oh well...is just clean, simple, and light. Super comfort!
And the last ones... Big sweater and typography book!! Hahaha..i really can't resist these two! Ada perasaan nyaman yang luar biasa ketika berbalut sweater super besar... Warm, nice, simple, and comfort! And the typography book is my other bed time story book. Hehehe...
Rabu, 19 Desember 2012
CUBICLE MAKE OVER!
Been more than a year working on this white plain cubicle! Well, i can say that this is the biggest desk that i've ever had! Today i have no more excuse to say "TOO BUSYYYY!" to clean up my desk! Year 2012 is coming and i'm ready for it! Let's clean up and do make over!
Since i love pop art and everything vintage...so i decided to decorate it using this theme. Hope this bring new spirit!
Sabtu, 15 Desember 2012
THANK YOU 2012
Dear 2012 life,
I can't believe how excited and boring at the same time you can be this year! And i really thank you for that! This is truly a BIG year that i can learn a lot about lifecycle. Laughs, tears, routines, parties, fireworks, deadlines, angers, new friends, culture shocks, travels, loves, local foods, lost in translations, rains, brokenheart, joys, smiles, and many more....
Distance
Spending the whole year working overseas is one of the biggest thing this life. Hundreds miles away from families and friends but trying hard to find the new ones here. I've been missed out many golden moments. My brother's wedding, my first nephew born, my younger sister's graduation, my parent's wedding anniversary & their birthdays, my bestfriends' wedding, and so on... Oh wow i'm complete! I'm a woman, a friend, a daughter, a sister, and an aunt!! But distance is just a feeling... I know i'm always there in their hearts and minds. and i'm completely sure that prays never failed :)
Never Ending Culture Shock
Whoa yes!! It's been more than 1,5 years here and these culture shocks keep happen! Hahahaha... I start to love all these awkward moments here... being the only Indo among them. I still remember the 1st time i had all those chinese herbs foods, doing their traditions, and pretending to be a buddhist at a big temple here just to know what are they doing on their praying time. That was the 1st time i had my meditation and i almost fell asleep!!! Grrrr.... Anyway, i can't resist that chinese culture now become a big part of my life!
Travwling and The Real Doraemon!
It's hard to move on from your childhood memories. And last March i went to Japan to meet "my fantasy friend" named Doraemon. An adorable cat from nowhere, created by a legendary Japanese caricaturist Fujiko F. Fujio. Visiting Doraemon Museum in Kawasaki Japan was a priceless moment! This is all about about hard work, persistence, passion, and dedication from the creator itself.
Brokenheart...Ouch!
It's been a long time not to talk about feeling. But brokenheart wasn't really good at all. The doomsday felt closer than it's been predicted. But what else can teach me to be a good partner? What else can teach me about failure? What else can teach me about take and give? What else can teach me about lose? And what else can teach me not to be a bitter but better person? :)
How tough it is to be a (very) good creative worker
Hahaha!! This sounds great! I always extra adrenaline everytime talking about this. Been a hard days lately to be a tough designer. This is really ain't easy to convince thoughts and ideas through people who are working in different backgrounds. Creative wise...business wise...political wise...and so on. Well, this year was a completely challenging year for me as a creative. Seeing different creative environment which i think this isn't creative at all...LOL!! No tension, no arguing, no bargaining power, no wild thoughts, no morning talks, no dirty words, no initiative ads...oh my God!!! I really do miss my creative fellas in Indoooooooooo! :)))
Coincidences
I never had any coincidences like i have lately. Meet someone thousand miles away and all these coincidences keep happen. Weird and funny at the same time. Life is too good to me, even i learn a lot of good things from a stranger. Languages, cultures, tolerance, and respect...
Well, i can't say 2012 is the most excited year but it's really a meaningful year for me. And i have a good feeling for year 2013. Hopefully.
Godspeed!!
Happy New Year!!!
Minggu, 09 Desember 2012
Sabtu, 01 Desember 2012
GUTEN ABEN, STUTTGART!
Singapore, 1st December 2012.
Hello December!
Oh...today is weekend, and i love to hear that today is the first weekend on December. I start to hear Christmas songs and see lots of lights accross the streets and downtown. And i love Singapore for that! But....snow? Umm...don't expect to much. :p
What a wonderful afternoon.
I went to an exhibition at Marina Keppel Bay to see the Stuttgart Expo with a friend. That was my 1st time come to that place and that was like a bit WOW! I felt like in Miami Beach for quite a while. Sunset, bay, private boats, christmas trees, lamps, and jazz... Best!
This Stuttgart expo really brought back my memories when i learned Deutsch when i was in high school. It's a good feeling when i can recognize some Deutsch words there. I can say that some Deutsch words are very similiar with English and Bahasa Indonesia. And it was so funny when i heard my friend read the word "Bitte" as "Bite" and "Straße" as "Strabe". Hehehe...
I like the ambient, graphics, the real Germans with their traditional clothes, the installation art, and the festive feelings there. Red, yellow, blue, black flags blended with the food stalls. I can see that it was a mix between Germany and Singapore cultures. There were some Singapore local foods (chicken rice, duck noodles, won ton noodles, curry puffs, and soya beancurd) but at the other side...Hmmm...that what i was looking for! German foods!! I like the way they presented the foods. Started from the 1st stall: Snacks! Such as Butter Pretzel, some breads, etc. And the next stall: Spatzle, Maultaschen, Sauerkraut, and many things that i really couldn't remember.... hehehe (they really have 'hard to remember' names though!), and the last one was desserts! An authentic black forest cake! This cake doesn't have a big difference with what i have in Indo. After all... I love cheese! I love german foods! i love that sauerkraut! And nothing happened with my stomach! *which i always have problem everytime i take sambal (Indo chili paste). Fake Indoooo! Hehehe....
As an art lover, the best thing was when i see all those wooden figurines. They were soooo cute! I don't know but i really like the way they use the colors. I like the different tones of blue and brown. Just nice and simple.
Thank you to welcome me at this expo. You really made my day! And my tummy...omg... i gained my weight in 2 hours! hahaha... The best wish is... Best luck to win the holiday trip to Stuttgart! *i really kissed those 2 forms for my luck though...hahahaha*. Guten aben, Stuttgart! And see you on March! :)
Langganan:
Postingan (Atom)
















































